Kuesioner 101
Tadi siang gw baru pulang responsi SI dan IMK bersama pa firman ( Ok, hari sabtu ada responsi emang menyebalkan, tapi mau diapakan lagi ). Di responsi itu kita ngebahas tugas kuesioner untuk mendapatkan informasi calon user yang akan menggunakan software kita ( tugas imk si juga ). Pak Firman menjelaskan kesalahan-kesalan dari daftar pertanyaan yang kita buat plus gimana sebaiknya. Disini gw mencoba menjelaskan kembali apa yang gw dapet di ruang kuliah + pemahaman gw sendiri. Warning ! Artikel ini rada-rada panjang. Gak usah dibaca kalau bukan lagi bikin kuesioner.
Secara singkat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun sebuah kuesioner adalah :
- Tujuan dari kuesioner : Tentukan informasi apa yang ingin kita gali dari kuesioner tersebut.
- Deskripsi Singkat dari Kuesioner : Membantu responden untuk memahami maksud dan arah dari pertanyaan yang kita sampaikan
- Tujuan dari pertanyaan : Informasi yang ingin digali dari suatu pertanyaan. Tentukanlah apakah suatu pertanyaan memang harus dilemparkan atau tidak
- Pilihan jawaban yang jelas : Jangan membuat responden bingung dengan pilihan yang ambigu atau samar-samar perbedaannya.
- Kenali Responden : Pilih istilah yang kira-kira dapat dipahami oleh seluruh responden
- Jenis pertanyaan yang tepat : Pilih jenis pertanyaan yang sesuai ( pilihan ganda, benar salah ) sesuai dengan isi pertanyaan dan informasi yang ingin kita gali
- Gunakan pilihan “lain-lain” dengan tepat : Kenali kapan kita harus memasang pilihan “lain-lain” dan kapan pilihan tersebut hanya akan membingungkan responden atau merusak jawaban.
- Mulai Dari Pertanyaan yang Bersifat Umum : Tanyakan hal-hal yang umum terlebih dahulu lalu lanjutkan ke hal-hal yang lebih spesifik ke tujuan kuesioner
- Alur Lompatan yang Jelas : Jika responden harus melompat ke pertanyaan lain, maka beri keterangan yang jelas untuk semua pilihan jawaban, kemana ia harus melompat.
- Kompensasi Untuk Responden : Buatlah responden bersemangat dalam mengisi kuesioner denan cara memberikan kompensasi.
Tujuan Dari Kuesioner
Ini adalah hal pertama yang harus dipikirkan sebelum menyebarkankan daftar pertanyaan. Apa tujuan dari kuesioner kita ? Informasi apa yang ingin kita dapatkan dari kuesioner tersebut ? Kalau tujuan udah jelas, kita bakalan gampang memilah-milah mana pertanyaan yang relevan mana yang kira-kira gak nyambung atau informasi yang didapat tidak berguna.
Pertanyaan seperti ” Status Anda ? : single, in-relationship, dan in-relationship + banyak seilngkuhan” tentu tidak relevan jika informasi yang ingin kita dapatkan adalah pengalaman dan pengetahuan user mengenai penggunaan aplikasi e-commerce.
Deskripsi Singkat Kuesioner Kita
Jangan remehkan soal deskripsi. Deskripsi yang jelas mengenai kuesioner dapat membantu responden dalam memahami maksud dari pertanyaan. Tidak perlu panjang lebar sehingga membuat responden mengantuk duluan. Yang penting, kita menggambarkan dengan jelas hal-hal yang hendak kita tanyakan. Ok, soal deskripsi ini memang sangat relatif, semua begantung pada topik kuesioner yang kita buat.
Tujuan Dari Pertanyaan
Tujuan dari kuesioner berakibat pada tujuan dari masing-masing pertanyaan. Jangan tanyakan hal-hal yang tidak kita perlukan. Sebelum bertanya, tanyakan pada diri sendiri, manfaat apa yang didapat jika data ini saya miliki? Apa pengaruhanya terhadap aplikasi yang sedang saya buat ? Apakah memang perlu ditanyakan lewat kuesioner ? Mungkin saja pertanyaan tersebut sudah dapat kita duga jawabannya tanpa harus melalui kuesioner.
Tanyakan apa yang perlu ditanyakan. Apa itu “pertanyaan yang perlu ditanyakan” ? Intinya, tidak setiap informasi relevan dengan apa yang sedang kita buat. Ada kalanya informasi tersebut terlihat menarik namun tidak memberikan pengaruh atau dampak apapun pada aplikasi kita. So, pertanyaan yang perlu ditanyakan adalah pertanyaan yang jawabannya dapat memberikan arahan dan pengaruh nyata pada rancangan aplikasi yang kita buat.
Hal lain yang penting adalah, jangan tanyakan sesuatu yang diluar ruang lingkup aplikasi. Jika aplikasi kita memang tidak mungkin digunakan tanpa akses internet, maka jangan tanyakan mengenai hal itu. Anda harus berasumsi bahwa pengguna aplikasi kita nantinya adalah orang-orang yang memiliki akses internet tidak peduli darimana ia dapatkan. Hal yang mungkin relevan ditanyakan adalah seberapa cepat akses internet yang ia miliki.
Pilihan Jawaban Yang Jelas
Jangan membuat responden kebingungan dengan pilihan jawaban yang ambigu atau tidak mempunyai parameter yang jelas. Contohnya begini :
Seberapa sering anda menggunakan email ?
- Sangat sering
- Sering
- Lumayan
- Kadang-kadang
- Tidak pernah
What? Apa beda sering dengan sangat sering? Apa beda lumayan dengan sering ? Mungkin anda sebagai pembuat pertanyaan tahu jawabannya, tapi belum tentu si responden. Model pertanyaan seperti diatas sangat sering muncul dan rata-rata membingungkan. Responden dipaksa berfikir menentukan pilihan yang paling cocok dengan dirinya. Informasi yang kita dapat juga bisa saja melenceng karena banyak responden yang salah memilih jawaban. Gimana solusinya? : permudah responden mengindentifikasi dirinya dengan cara memberikan gambaran. Contohnya gini :
Seberapa sering anda menggunakan email ?
- Sering, saya aktif berkorespondensi dengan teman dan aktif berdiskusi / mengobrol di mailing list
- Lumayan, saya membuka dan memeriksa email hampir setiap hari, namun tidak begitu aktif menulis kecuali untuk membalas email yang masuk atau menyapa teman lama.
- Kadang-kadang. Saya membuka email hanya untuk mengirimkan tugas atau saat mendaftar ke layanan tertentu yang membutuhkan konfirmasi via email.
- Jarang. Saya punya akun email dan pernah menggunakan beberapa kali tapi hampir tidak pernah dibuka bahkan mungkin saya sudah lupa passwordnya.
- Tidak pernah sama sekali.
Gambaran seperti diatas akan membantu responden untuk mengidentifikasi dirinya atau setidaknya mengenali pilihan mana yang paling dekat dengan kondisinya sekarang.
Kenali Responden
Orang-orang yang menjadi responden berpengaruh sangat banyak pada pertanyaan kita. Jika salah mengenali responen, maka besar kemungkinan informasi yang kita dapat menjadi berantakan.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah soal pemilihan istilah. Jangan gunakan istilah yang mungkin hanya dapat dipahami oleh responden tertentu. Contohnya, Jika responden kita adalah mahasiswa IPB dari berbagai jurusan, maka jangan gunakan istilah-istilah yang terlalu teknik. Kata “web based email” mungkin perlu diberi contoh yang familiar seperti “yahoo, gmail, hotmail” agar responden dapat langsung mengenail maksud dari kata tersebut. Kalimat “mendownload email melalui protocol POP 3 / IMAP” bisa diganti dengan “membaca email melalui aplikasi desktop seperti outlook atau thunderbird” meskipun sebenarnya POP 3 / IMAP tidak melulu lewat program desktop. Yang penting adalah tetap menjaga agar penyederhanaan kata tidak membuat responden salah mengerti maksud dari pertanyaan kita.
Karakteristik responden juga berpengaruh pada pilihan jawaban yang kita sediakan. Pertanyaan yang sama dapat memiliki pilihan jawaban yang berbeda tergantung pada karakteristi responden. Jika kita sedang melakukan survei mengenai aplikasi jaringan dan yang menjadi responden adalah network administrator, mungkin pilihan jawaban untuk pertanyaan “Sistem operasi yang digunakan” adalah “RHLE, BSD, Unix, Windows Server 2003, dll”. Tapi jika pada kesempatan lain yang menjadi responden adalah pengguna komputer biasa, maka gunakan pilihan sistem operasi yang lebih umum digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti “windows xp, windows vista, ubuntu linux, dll”.
Jenis Pertanyaan Yang Tepat
Ada beberapa jenis pertanyaan yang dikenal saat ini : pilihan ganda, benar salah, mengisi titik-titik, dll. Jangan pukul rata semua pertanyaan dengan jenis yang sama. Pikirkan baik-baik jenis yang tepat untuk pertanyaan tersebut. Jika kita menanyakan jenis kelamin, tentu akan lebih cocok menggunakan pilihan ganda ( laki-laki, perempuan, menolak untuk menjawab ). Tetapi jika yang ditanyakan adalah “makanan favorite” tentu akan lebih baik jika menggunakan isian karena pilihannya bisa sangat banyak.
Pikirkan juga informasi apa yang ingin kita dapatkan dari pertanyaan tersebut. Contohnya begini. Jika kita menanyakan usia dari responden, maka informasi apa yang kita inginkan? Jika yang ingin kita ketahui adalah kelompok umur mayoritas dari pengguna aplikasi, maka gunakan pilihan ganda berisi range umur atau kelompok umur seperti “anak-anak, remaja, pemuda, dll”. Tapi jika ingin mendapatkan informasi “rata-rata usia saat melahirkan anak pertama” mungkin pilihan isian lebih tepat.
Gunakan Pilihan Jawaban “lain-lain” Dengan Tepat
Pilihan “lain-lain” adalah pilihan yang dipilih pada pertanyaan berjenis pilihan ganda jika responden tidak menemukan jawaban yang cocok dari pilihan yang disediakan. Biasanya pilihan “lain-lain” berupa pengisian titik-titik atau cukup opsi bertuliskan “lain-lain” saja. Oke, definisi gw emang suck, tapi dapet gambaran kan?
Aturan main pertama dari pilihan default adalah, jangan memberikan pilihan tersebut jika memang tidak diperlukan. Hal itu hanya akan membuat responden bingung. Dampak lainnya adalah si responden akan mudah merasa semua pilihan tidak cocok lalu mengisi pilihan “lain-lain” dengan jawaban mereka sendiri meskipun sebenarnya jawab tersebut sudah ada di pilihan jawaban. Contoh :
Seberapa sering anda menggunakan email ?
- Sangat sering
- Sering
- Lumayan
- Kadang-kadang
- Tidak pernah
- lain-lain ……..
Kondisi apa yang menyebabkan responden harus memilih “lain-lain” ? Sangat tidak jelas. Diluar pilihannya yang memang ambigu ( lihat “pilihan jawaban yang jelas” ), seharusnya semua jawaban yang mungkin dari responden sudah tercover oleh pilihan2 sebelumnya. Lalu mengapa masih harus memberi pilihan “lain-lain”? responden yang bingung mungkin akan menulis “sekali dua kali” meskipun yang sebenarnya yang dia maksud adalah “kadang-kadang”.
Aturan main kedua adalah, jika sekiranya pilihan “lain-lain” akan mendominasi sebagian besar dari jawaban responden, maka perbaiki pertanyaanya. Pastikan bahwa pilhan default hanya akan dipilih oleh responden minoritas. Kalau sampai kebanyakan responen memilih “lain-lain”, berarti ada yang salah pada pilihan jawaban yang kita sediakan. Contoh :
Sistem Operasi apa yang anda gunakan ?
- Ms Windows
- Mac OS
- Linux
- Lain-Lain
Dari sini bisa dipastikan bahwa sebagian besar jawaban responden akan masuk ke 3 pilihan awal. Tapi tetap pilihan “lain-lain” diperlukan pada pertanyaan tersebut karena ada kemungkinan responden tidak menggunakan pilihan jawaban yang tertera disana. Namun jika pilihan “Ms Windows” dihilangkan sementara yang menjadi responden adalah pengguna biasa, maka responden yang menjawab “lain-lain” akan memdominasi sehingga pilihan jawaban harus diperbaiki.
Mulai Dari Pertanyaan yang Bersifat Umum
Membuat kuesioner sebenernya tidak jauh beda dengan pendekatan ama lawan jenis
Kalau baru kenal sehari kita udah nanyain nomor celana dalam, pasti kena tampar
. Mulailah rangkaian pertanyaan dari hal-hal yang bersifat umum ( namun tetap berhubungan dengan tujuan kuesioner ) lalu semakin menjurus ke pengungkapan perasaan hal-hal yang spesifik mengenai tujuan kuesioner kita.
Sebagai contoh, kuesioner mengenai aplikasi e-commerce bisa dimulai dari pertanyaan seputar pengalaman responden menggunakan internet, baru kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai seberapa sering responden bertransaksi via internet dan layanan ecommerce mana saja yang sudah pernah ia gunakan. Dengan begini kita akan mudah menentukan titik premature stop ( berhenti menjawab sebelum seluruh pertanyaan dijawab ). Jika responden tidak pernah bertransaksi via internet sama sekali, maka pertanyaan selanjutnya yang lebih spesifik ke arah aplikasi ecommerce menjadi tidak relevan sehingga tidak perlu dijawab lagi oleh responden.
Alur Lompatan yang Jelas
Seperti contoh sebelumnya, seringkali suatu pertanyan menjadi tidak relevan karena jawaban responden pada pertanyaan sebelumnya. Contoh :
Apakah anda dapat memahami tulisan berbahasa inggis ?
- Ya
- Tidak
Jika ya, lanjutkan ke pertanyaan nomor 5.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, jika saya menjawab tidak, kemana saya harus melanjutkan? Apakah nomor 5 tetap harus diisi? Apakah karir saya sebagai pengisi kuesioner berhenti sampai disini? Jelaskan secara eksplisit kepada responden kemana ia harus melanjutkan setelah mengisi pertanyaan yang sifatnya mengubah alur pertanyaan.
Kompensasi Untuk Responden
Pada dasarnya mengisi kuesioner itu menyebalkan karena orang dipaksa untuk berfikir dan menulis. Jagnan lupa memberikan kompensasi untuk responden agar dia tidak “ogah-ogahan” dalam mengisi. Kalau respondedn mala berfikir, hasil yang kita dapat mungkin akan banyak terdistorsi karena responden mengisi jawaban secara asal bahkan tanpa melihat isi pertanyaan sebelumnya Tidak perlu mahal-mahal, pulpen atau coklat mungkin sudah cukup ( pengalamn pribadi ) ![]()
Enjoy !







May 16th, 2009 23:32
Wei, di Ilkom ada bikin Kuesioenr juga??
Klo di STk kan belajr Metode Penarikan Contoh dulu
[Reply]
May 16th, 2009 23:33
OOT : Travian masih maen Gak Mas? Baru belajar maen di IDx, huf huf
[Reply]
May 16th, 2009 23:34
Bukana mata kuliah khusus sih, sekedar bikin kuesioner untuk mendesain software yang sesuai ama karakteristik pengguna.
[Reply]
May 16th, 2009 23:39
udah enggak, gak kuat maennya he3.. kalau mau main di idx bikin tim ( 1 akun dimaenin bareng2 ). Sekarang sih coba aja dulu kenalin gaya mennya, ntar lama-lama bakalan kerasa deh kalau kita butuh tim, he3..
[Reply]
May 17th, 2009 06:24
Bagus…Bagus…
Jadi bisa tau komentar Pak Firman ma anak-anak yang responsi shift 2.
[Reply]
May 17th, 2009 07:31
ooo….. ini yang ampir ilang??
.. s … o .. :mrgreen:
[Reply]
May 17th, 2009 13:47
subhanallooh.. panjang beeeet
[Reply]