Archive for the 'Pengen Nulis' Category

Tentang Aturan dan Batasan

Ini cerita tidak nyata soal acara tukar kado. Apaan tuh? Buat yang gak tau, tukar kado itu semacam game sederhana buat kelompok. Aturannya gampang aja :

  • Tiap anggota kelompok nyiapin kado dengan nilai tertentu yang dibungkus pake koran
  • Kado dikumpulin
  • Terus diacak
  • Bagi-bagiin lagi deh

Biar fair, bisanya nilai barang yang dijadiin kado harus berada dalam batasan tertentu, misal, gak kurang dan gak lebih dari lima ribu rupiah. So, aturan untuk kado yang diperbolehkan cuman ada 1 : Harga kado harus tepat lima ribu rupiah.

Read the rest of this entry »

Presentasi 101

Akhir-akhir ini anak-anak kelas gw sering disuruh maju kedepan buat presentasi, ntah itu buat kolokium, seminar PKL, atau sekedar tugas kuliah biasa. Sebagian anak menyajikan materi dengan baik dan menarik, sebagian lagi bisa dibilang ugly plain sucks. Gak bermaksud buat menghina, tapi gw yakin sebagian kawan-kawan gw tersebut bisa melakukannya dengan jauh lebih baik andai sedikit mempelajari teknik presentasi yang benar atau sekedar mengamati temannya yang melakukan presentasi dengan “amazing”.

Gak semua orang punya skill dan bakat public speaking. Gw tahu public speaking merupakan hal yang cukup sulit dilakukan bagi mereka yang belum terbiasa. Tapi seminim apapun pengalaman kita bicara didepan umum, ada beberapa tips dan rule dasar yang menurut gw mudah dilakukan tanpa harus memiliki kemampuan  public speaking tingkat tinggi seperti Deni sang wapresma atau Roni ketua Himalkom.

Saat kita melakukan persiapan sebelum presentasi (termasuk membuat slide, nyusun bahan pembicaraan, dll) camkan dikepala baik-baik bahwa tujuan utama presentasi adalah menyampaikan ide. Menurut gw, ini adalah aturan paling dasar dari presentasi. Kalau audience gak bisa nangkap ide utama yang ingin kita sampaikan, maka presentasinya bisa dibilang gagal. Cukup ide utama, masalah detail jelas tergantung daya tangkap masing-masing audience.

Cukup lah bacotnya, ini sedikit tips dari gw.

Read the rest of this entry »

Classification : Martabak Telor Style

Sepulang dari tempat PKL hari selasa kemaren gw mampir ke bara buat beli martabak telor. Ah.. sore-sore emang enaknya makan martabak sambil minum teh. Lho, kata sapa? Bukannya enakan makan pancake?  Udah lah, yang pasti kemaren sore gw laper, terus mampir beli martabak. titik.

Ada satu hal yang udah sangat-sangat-sangat lama gw sadarin tapi lagi-lagi menarik perhatian gw. Soal pricing dan penamaannya. Sepanjang ingatan gw,  tukang martabak telor selalu menggunakan strategy price discrimination untuk produk-produknya., Okay. Sory kalau gw salah istilahmya, rada-rada lupa soal ekonomi ini. Yang pasti, di tukang martabak telor kita bisa memilih beberapa “kelas martabak” yang paling sesuai dengan kondisi kantong dan perut. Yang murah, yang sedang, apa yang mahal?

Read the rest of this entry »

The Cat Ate My Source Code

Kita semua pasti pernah diberi amanah oleh orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan. Ntah besar ataupun kecil, amanah itu harus kita jalankan sebaik-baiknya. Jika anda tidak setuju, jangan menerima tugas dari orang lain karena anda bisa mengacaukan banyak hal.

Tidak peduli sekeras apapun kita berusaha menjalankan amanah, ada kalanya situasi buruk terjadi. Tidak semua aspek bisa kita contol. Seringkali bukan kemalasan pribadi namun keadaanlah yang memaksa kita untuk terpuruk dalam kondisi “gagal menjalankan amanah”.

Ketika anda gagal, maka jangan memberikan alasan, bertanggung jawablah.

Saat anda sudah bilang “ya, saya sanggup” atau “Insya Allah“, maka secara tidak langsung anda sudah memberikan harapan pada Mr Big Bos yang memberian tugas . Anda bisa saja menolak suatu tugas karena menurut anda tidak mungkin dilakukan. Namun jika anda sudah menerimanya, berarti anda harus menjalankannya.

Ketika anda gagal, alasan apapun yang anda berikan tidak akan menyelesaikan masalah,. Akuilah dengan jujur bahwa anda telah gagal dan berikan alternative solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi.

If there was a risk that the vendor wouldn’t come through for you, then you should have had a contingency plan. If the disk crashes—taking all of your source code with it—and you don’t have a backup, it’s your fault. Telling your boss “the cat ate my source code” just won’t cut it.

Jangan salahkan teman, jangan salahkan PLN, jangan salahkan komputer, itu salah anda dan andalah yang harus bertanggung jawab. Sekarang semua tergantung anda. Anda bisa memberikan atau mengada-ngada alasan, namun, anda bisa juga memberikan alternative solusi yang mungkin diambil.

Daripada anda berkata bahwa “hal itu tidak bisa dilakukan” lebih baik anda mencari dan menjelaskan “apa yang bisa dilakukan” . Sebelum anda berpikir untuk memberikan alasan pada Mr Big Bos, pikirkan opsi-opsi lain yang bisa anda berikan dan lakukan untuk menyelesaikan masalah. Jika menurut anda memang tidak ada cara selain beralasan, maka cobalah berpikir dari sisi Mr Big Bos yang akan menerima alasan anda.

Note : intepretasi ulang dari buku super keren : Pragmatic Programmer oleh Andrew Hunt dan David Thomas

Polling for Fun and Profits

Polling merupakan alat bantu yang bagus dalam mengambil keputusan. Dengan polling, kita bisa mengetahui pendapat kebanyakan orang mengenai permasalahan terntentu tanpa debat berkepanjangan. Memang, yang banyak belum tentu benar. Tapi untuk beberapa masalah, seringkali yang banyak itu yang benar. So, kenapa enggak kita bikin polling ?

Menurut pendapat pribadi gw, tidak semua polling itu berguna. Maksudnya, tidak semua polling bisa memberikan kita suatu hasil yang bermanfaat bagi kita ( sama aja ya ? ).

Polling tidak akan berguna jika hasil dari polling sudah dapat ditebak, he3.. *teori baru*

Kita lihat contoh polling yang dapat ditebak hasilnya :

Menurut anda, benda apakah yang paling cocok diberikan untuk mahasiswa baru ilmu komputer sebagai alat bantu belajar ? 

  • Flashdisk 4GB,
  • 5 Buah DVD berisi Program, slide kuliah, dan DVD linux,
  • Laptop Sony Vaio terbaru,

Ok, mungkin ada orang yang flashdisknya baru ilang. Mungkin ada juga orang yang merasa DVD berisi materi merupakan sesuatu yang berharga. Tapi kalau gw,  mau lagi butuh flashdisk segimanapun, gw pasti milih laptop, iya gak ?

Mengisi polling yang hasilnya bisa ditebak tidak lebih dari mengisi soal PPKN. Ambil yang baik, buang yang buruk *gak rame*

Sekarang, bandingkan dengan ini :

Uang anda menipis, sedangkan akhir bulan masih satu minggu lagi, yang anda lakukan adalah  ? Asumsikan anda mendapat jajan setiap tanggal 1.

  • Meminjam dulu ke teman jika kehabisan untuk diganti saat mendapat kiriman,
  • Telepon orang tua untuk mengirimkan uang jajan beberapa hari lebih awal,
  • Menghemat uang dengan puasa di hari tertentu dan tidak ngemil,

Pilihan pertanyaan diatas menurut gw punya basis pemilih yang imbang. Hasil dari polling bisa membantu anda untuk mengambil keputusan saat uang lagi seret. 

Permasalahan lain yang sering muncul dari sebuah polling adalah terdapatnya pilihan “semuanya” yang merusak netralitas pilihan, contoh :

Sebagai mahasiswa, makanan yang paling cocok untuk anda adalah. Asumsikan semua makan “layak” untuk dimakan  :

  • Relative murah
  • Rasanya Enak
  • Memiliki Porsi Jumbo
  • Kandungan Gizi Lengkap
  • Keempatnya

Hum.. Pastinya gw milih pilihan yang ke lima dong ? he3.,

Jika ternyata pilihan polling sudah bisa ditebak hasilnya, apakah harus dipaksakan agar tetap netral ? Tidak, bukan dengan mengubah pertanyaan secara maksa tapi dengan cara tidak usah membuat polling. Jika solusi terbaik sudah anda dapat, mengapa harus bertanya lagi pada orang banyak ?

Jika saya belum benar-benar yakin itu solusi terbaik ? Konsultasi saja pada beberapa teman. Jika ternyata teman ngasih jawaban beda-beda ? Itu tandanya masih mungkin dibuat polling :))

Tentang Rapat

Well.. rapat, rapat, dan rapat.  Banyak orang gak suka ama rapat. Berbagai macam alasan dikemukakan dan semuanya masuk akal. Ada yang bilang rapat kurang efektif, rapat memperpendek waktu kerja, rapat cuman nambah-nambahin kerjaan, rapat bt, rapat memuakan, rapat bikin sakit gigi *boong*, dan lain sebagainya.

Anehnya, masih aja ada orang yang seneng ngadain rapat ! Gw curiga, jangan-jangan mereka merasa terangsang gagah saat memimpin atau mengikuti sebuah rapat. Apa yah namanya orang kayak gitu ? Rapatpat atau hyperpat ? :)) ( ceritanya ngikutin psikopat )

Gw gak habis pikir, apa enaknya rapat ? Enakan tidur dirumah, iya gak ? iya dong ! *maksa* :P. Rapat emang perlu sekali-kali. Iyah sekali-kali. Bukan seminggu dua kali apalagi sehari tiga kali. Keseringan rapat bakalan bikin muak dan pengen mukulin. Sebaliknya, gak pernah rapat sama sekali bakalan bikin orang bertanya-tanya : “Ni acara jadi gak sih sebenernya ? “ 

Menurut pendapat gw ada beberapa rapat yang tidak berguna atau bisa digantikan dengan solusi selain rapat. Karena gw jarang ikut rapat, cuman segini yang gw tau dan gw rasa benar-benar gak berguna. Jangan lupa, gw bukan aktivis organisasi. Jadi sori-sori aja kalau teori gw berbeda dengan apa yang pernah kalian dapet :p

Rapat General. Jadi inget tulisan di sebuah kaos “kalkulus cukup satu” . Kalau gw boleh ganti, gw bakalan bikin kaos “Rapat General Cukup Satu” . Sekarang, coba kita perhatikan pada saat rapat general. Ada berapa orang yang berbicara ? Gw yakin gak akan sampai 5% – kecuali kalau ada perang yel yel atau pesertanya cuman 3 orang – dan kebanyakan cuman ketua divisinya aja yang ngomong. Kasian atuh si dudu mau ngerjain tugas komgraf kalau disuruh rapat mulu. Bukankah ampe disana juga dia malah bengong dan terkantuk-kantuk ? Sekali lagi gw tekankan, manfaatkan ketua divisi. 

Kalau ada rapat yang melibatkan lebih dari satu divisi, kumpulin aja mereka yang berkepentingan. Gak perlu bawa semua orang kan buat ngasih tahu kalau makanan nanti harus ada ayamnnya ? 

Rapat untuk menyebarkan dan mencari informasi. Hm.. tahukah anda, apa tujuan dibuat hierarki pada organisasi sebenarnya ? Bukan, bukan untuk keren-kerenan, bukan untuk meringankan tugas pimpinan, bukan juga biar ada bahan untuk bikin poster. Hierarki dibuat tak lain dan tak bukan adalah untuk mengurangi informasi yang sampai ke pucuk pimpinan. Tepat ! Direktur utama akan pusing kalau permasalahan hilangnya sapu di front office saja harus dilaporkan langsung ke dia.

So, sebarkan informasi melalui ketua divisi lalu biarkan mereka berkarya. Begitu juga saat mencari info. Jangan langsung nanya ke panitia paling bawah kecuali benar-benar perlu. Tanyakan ke ketua divisi. Mereka bisa memberikan jawaban lebih baik karena memiliki informasi secara keseluruhan mengenai kinerja divisinya.

Rapat Buat Ngasih Tugas. Ini sama anehnya. Kenapa harus ngumpulin semua orang buat nyuruh-nyuruh anak buah ? Kumpulan mereka kalau memang ada korelasi antar tugas. Kalau enggak, cukup sms ajah atau telepon biar gaya. Mengumumkan tugas ke semua orang dalam satu divisi bisa bikin anak buah saling lepas tanggung jawab. Coba omongin secara pribadi ke orangnya langsung, pasti dia lebih tertekan, he3.

Rapat Buat Dengan Curhatan / Pamer. Iya sayang.. kita tahu kalau kamu jagoan bikin acara dan bau mulut, tapi gak perlu ngasih tau ke semua orang ! “Lame..”  Jujur, cuman itu yang ada dipikiran gw kalau kebetulan ikut rapat semacam ini. Gak perlu gw kasih contoh biar gak ada yang ngambek :p he3.

Rapat Evaluasi. Pertanyaan satu miliar : Ngapain bikin rapat evaluasi acara kalau tahun depan panitianya udah ganti ? Bukannya gak penting, tapi gak semua rapat perlu evaluasi. Kalau emang tu acara bakalan ada lagi tahun depan, dengan panitia yang sama, baru bikin evaluasi. Kalau kayak ospek ? ( meskipun gak ada )

Rapet Pertanggungjawaban. Jujur ajah, ngedengerin pertanggung jawaban tuh bikin ngantuk. Menurut gw cuman dana dan pengeluaran yang perlu dipertanggung jawabkan. Acara berhasil dengan sukses dan meriah sih gak usah dilaporin. Toh, ketua panitia pasti ikut acaranya dan bisa menilai langsung kinerja anakbuahnya.

Rapat Buat Nyari Jodoh. No Comment :P

Bonus : Tips biar rapat gak bikin bt !
Read the rest of this entry »

Bagaimana Kita Membuat Perencanaan

Setiap kegiatan yang membutuhkan pengorbanan harus memiliki manfaat yang nyata. Pengorbanan disini bisa berarti uang, waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya. Jika anda memutuskan untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan pengorbanan, maka pastikanlah ada manfaat yang didapat setelah kegiatan itu selesai atau anda baru saja membuang sesuatu yang berharga.

Satu hal yang dibutuhkan untuk mendapat manfaat dari pengorbanan adalah rencana. Tidak memiliki rencana berarti memilih untuk menggunakan rencana default : kegagalan. Sebuah rencana dibuat dengan perjanjian bahwa rencana itu akan membimbing anda untuk mencapai tujuan. Apapun hasilnya nanti, rencana yang dapat diprediksi akan berakhir pada kehancuran bukanlah suatu rencana. Berdasar pendapat pribadi saya, suatu rencana setidaknya harus memiliki tiga hal berikut :

  1. Tujuan atau indikator yang ingin dicapai,
  2. Bagaimana cara mencapai tujuan tersebut,
  3. Rencana B saat ada sesuatu yang berjalan diluar prediksi .

Kita ambil contoh saat pergi ke kamar mandi. Saat anda memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, berarti anda memutuskan untuk mengorbankan waktu anda untuk menukarnya dengan manfaat. Sebelum memulai kegiatan, sebenarnya anda sudah membuat rencana. Ditulis atau tidak bukanlah kriteria wajib sebuah rencana.

Pergi kekamar mandi adalah contoh yang sederhana untuk menunjukan bagaimana melakukan perencanaan yang baik : Read the rest of this entry »

Bounded Waiting

Pada dasarnya gw adalah mahluk yang jarang kuliah. Gw gak punya pelajaran favorite dan gak punya aturan jelas kapan harus masuk dan kapan harus bolos – kecuali kalau jatah absen abis tentunya. Satu-satu nya pedoman yang selalu gw pegang adalah : kalau kuliah jam 7 usahakan tidak masuk. 

Karena jarang dateng kuliah, kepala gw jadi kurang kelatih buat nangkep pelajaran dari dosen. Gelap. Mungkin itu kata-kata yang tepat buat mengambarkan isi kepala gw saat berada di dalam kelas. Pengen tidur udah kebanyakan, akhirnya gw cuman bisa bengong sambil sesekali menggerutu gak jelas menunggu waktu berlalu.

Alkisah, suatu hari gw masuk MK kecerdasan buatan. Read the rest of this entry »

Alasan Seminar Gagal

note : Post ini terinspirasi dari posting kawan gw freddy.

Kenapa seminar bisa gagal ? Sebenernya yang namanya gagal itu relatif. Ruang seminar tiba-tiba meledak bisa dibilang gagal. Pembicara meninggal di tengah acara juga bisa dibilang gagal. Gagal disini kita persempit aja yah jadi “sepi pengunjung”. Sebenernya gampang gampang susah buat nganalisis kenapa seminar bisa sepi pengujung, kita mulai dari teori paling sederhana : “Suatu seminar dikatakan “worthed” untuk dihadiri jika cost yang dikeluarkan untuk hadir lebih kecil dari benefit yang didapat” .

Apa aja cost yang dikeluarkan untuk ikut seminar ?

  • Waktu : Tambah lama seminar dilaksanakan, tambah tinggi cost yang dibutuhkan untuk ikut seminar tersebut. Seminar yang keren gak mesti jalan seharian. Boring kali ? Mendingan cuman 3 jam tapi bener-bener berkesan. Seminar tu lebih mirip cukur rambut dari pada roller coaster : tambah lama gak mesti tambah asyik.
  • Uang : Tambah mahal biaya masuk seminar, tambah tinggi cost. Kalau masang tarif 500.000 ke mahasiswa sapa yang mau dateng ? Kecuali ESQ kali yang udah punya brand, itu juga training bukan seminar.
  • Energy : Maksud dari energy ya posisi ruang seminar, disana kita ngapain aja, bla bla bla. Misal kita ngadain seminar di Baranang Siang dengan taget audience anak TPB, jelas cost dari energy bakalan naik secara signifikan

Masalahnya, orang gak akan tau berapa besar benefit yang dia dapat kalau belum ikut tu seminar ampe beres. So dia akan memperhatikan beberapa faktor yang bisa dilihat sekarang untuk memperkirakan selisih antara cost dan benefit setelah dia mengikuti seminar terebut :

Faktor Seminar

  1. Pembicara : Cukup jelas,
  2. Tema / Topik dari seminar : Tema bukan hanya harus menarik, tapi juga enggak norak. Mahasiswa kadang gengsi megang sertifikat bertuliskan nama dia telah ikut seminar dengan tema “cepet kawin ? asyik lagi !!” . Kategori tema apa yang menarik adalah personal choice. Make topik yang udah lama gak apa-apa kok asal vintage. Jangan ngasih topik pembicaraan yang terlalu umum apalagi topik yang bisa kita dapet dengan ngedengerin khutbah shalat jum’at.
  3. Ruangan tempat seminar : Ini kadang-kadang kurang diperhatikan. Kalau gw ngeliat ada seminar di auditorium rektorat dan ‘gratis’, score ketertarikan gw bakalan naik meskipun mungkin temanya biasa-biasa ajah. Tapi kalau ruangnya di ‘DAR’ ( bayar pula 100rb ), huh..
  4. Poster : Yep, gw pernah lihat poster tentang seminar cinta. Warna dasarnya pink, sesuai banget dengan tema cinta. Sayang, pembicaranya bertampang kuburan. Dari awal ngeliat gw udah ragu, apa mungkin dia bicara soal cinta ? Poster mencerminkan seberapa ‘wah’ ni seminar. Kadang-kadang , orang bisa menilai seberapa heboh ni seminar dari seberapa heboh publikasinya. Gak usah ragu nyewa designer proffesional buat bikin poster.
  5. Cost : Rule nya sederhana – “Jangan berani-berani minta charge kalau gak bisa ngasih makanan dan atau sertifikat”

Faktor External
Kadang kadang orang tetep datang ke seminar biarpun 5 aturan di atas gagal semua dipenuhin, why ? Karena ada faktor external :

  1. Diwajibin ama departemen
  2. Diajak gebetan

Yeah, gak ada alasan lain kayaknya, he3..

Korek Api

Cerita basi : “Rokok banyak, korek gak ada”. Kadang gw heran ama diri gw sendiri, bagaimana bisa hal konyol seperti itu terjadi. Air banyak kopi gak ada ma biasa, begitu juga dengan korek banyak rokok gak ada : biasa.  Kebalikannya adalah hal yang aneh. Lebih aneh dari pulpen banyak kertas gak ada, Daripada terus-terusan dipikirin and malah makin gak nyambung, mari kita analisis kenapa hal bodoh seperti itu bisa terjadi, mungkin bisa jadi pelajaran buat yang lain :

Possible Cause

1. Gw kurang bersyukur .  Ya.. di masa “jaya”, korek bertebaran dimana-mana. Bisa 3 kotak korek kayu, korek gas, + zippo. Belum kalau punya orang ketinggalan di kamar gw. Tambah jaya gw. Apa yang gw lakukan ? Gw taro tu korek di sebarang tempat, kadang-kadang gw bakar-bakarin gak jelas. Pernah juga gw bawa ke kamar mandi teruz nyebur ke bak and basah.. *bodoh*

2. Gw teledor . Problem lama tapi masih dasyat efeknya. Main kerumah temen, ngerokok, ketinggalan ( biasanya kalau rokoknya udah abiz ). Panik ? No.. masih banyak ini dikamar, he3.. ( efek dari perbuatan no 1 ).

3. Kurang Menghargai. Berapa sih harga korek api ? Paling 300 perak. Jangankan korek 300 perak, korek Zippo yang harganya 55 ribu aja gw gak bisa ngerawatnya. Di benak gw sudah tertanam bahwa “rokok lebih mahal dari korek, so.. rokok yang harus dijaga” . Alasan lain, kita bisa dengan mudah ngedapetin api gratisan ( minta ke warung ), tapi minta rokok ? Huh.. di suruh ngepel dulu gw, he3..

4. Lupa kalau korek dan rokok adalah barang komplementer.  Analoginya sama kayak sepatu ama kaos kaki. Nilai fungsionalitas dari sepatu akan berkurang kalau gak ada kaos kaki. Tapi.. kaos kaki murah.. sepatu mahal.. Hilang kaos kaki biasa, hilang sepatu  baru kesel, padahal..

5. Api beda ama udara . That’s right, peluang kita kesulitan atau bahkan hampir mustahil untuk mendapatkan api, JAUH LEBIH BESAR daripada peluang kita kesulitan mendapatkan udara – bahkan air. Jangan mentang-mentang korek api lagi banyak teruz kita sepelekan..

Pada intinya, kita baru merasa membutuhkan sesuatu saat kita sudah kehilangan, so.. bersyukur dan hargailah, apa yang kita miliki saat ini..