Cerita ini mungkin gak begitu menarik, tapi ada 1 hal yang menurut gw cukup baik untuk dianalisis.
Sebagai mahasiswa tingkat 1 di IPB, gw dan kawan gw mamat ( nama disamarkan ) tinggal di Asrama TPB ( Tingkat Persiapan Bersama ). Kawan gw tinggal di gedung C3 dan gw sendiri di C1. Karena perbedaan gedung itulah kawan gw baru cerita sekarang pengalamannya.
Waktu itu mamat mau keluar kamar buat nyari makan, tiba2 ada temennya anto ( nama ngasal ) yang tinggal satu lorong ma mamat nyamperin. Belakangan diketahui kalau dia adalah salah satu member MLM yg pusatnya di negeri tirai bambu. Si Anto ngajak temennya juga yang namanya Jefri ( nama ngasal juga ). Jefri adalah seniornya si anto di MLM tersebut.
Anto ( A ) :mat, lu ada waktu dikit gak ? 15 menit ajah..
Mamat ( M ) : Gw mau nyari makan, emangnya buat apa ?
A : Gw pengen ngobrol2 dikit sekalian persentasi
Akhirnya si Mamat pun setuju, “15 menit doang..” pikir si Mamat. Mereka bertiga pun masuk ke kamar Mamat. si Anto mulai dengan pertanyaan :
A : Mat, lu mau kaya gak ?
M : Ya iya lah.. semua orang juga pengen kaya kali ?
A : Iya, lu mau kan ngebahagiain Orang Tua lu ? Misalnya ngehajiin bapak lu ?
M : Bapak gw udah haji
A : Ya mungkin Ibu lu ?
M : Ibu gw juga udah haji
Karena kasian sambil tertawa-tawa akhirnya si mamat nambahin
M : Tapi Nenek gw belum haji,
A : Nah.. Kalau lu ikut gw, lu bisa kaya dengan cepat
Mamat yang udah curiga langsung berfikir dalam hati.. “Yah, ini pasi MLM..” . Rupanya seperti dapat membaca pikiran Mamat si Anto langsung menambahkan
A : Ini bukan MLM mat, ini bisnis ! Jaringannya ada dimana-mana, senior gw si jefri udah ngejalanin bisnis ini ampe Bali.
Kenyataannya, si jefri bukan udah “buka cabang di Bali ” tapi sekedar “Punya Downline” orang Bali. Persentasi yang dijanjikan hanya berjalan 15 menit pun akhirnya molor sampai 1 jam lamanya. Kasian emang kawan gw, sambil menahan lapar dia harus mendengar ocehan menggebu-gebu tentang MLM dan mimpi menjadi kaya.
Pertanyaanya adalah, Anto tuh orang baru. Anto belum menyicipi kekayaan yang dijanjikan oleh program yang diikutinya. Bahkan kemungkinan besar balik modal aja belum. Tapi mengapa Anto bisa dengan semangat “Mendakwahi” orang lain agar mengikuti jejaknya ? Dari mana datangnya semangat itu ? Apa yang dikatakan upline-upline nya sehingga Anto seperti tercuci otaknya dan tak peduli untuk bersusah payah persentasi didepan orang demi mencari downline ?
Sayang sekali jika “semangat Anto” digunakan hanya untuk mencari Downline MLM. Akan lebih baik jika semangat itu digunakan untuk bidang lain. Metode yang digunakan untuk menarik hati downline adalah memberikan iming-iming kekayaan dan hidup mewah. Bukankah ustad-ustad juga menggunakan metode yang sama ? Bahkan Tuhan memberikan ancaman pada hambaNya yang membangkan, apakah si Anto di todong pisau pada saat disuruh mencari downline ? Saya rasa tidak..
Itulah manusia. Manusia ingin yang instan, manusia ingin bukti, dan manusia ingin kaya. MLM menjanjikan ketiganya : Kaya secara cepat disertai contoh orang yang sudah berhasil. Yang tidak disadari adalah, berapa orang yang bisa berhasil seperti mereka ? Apakah semua orang bisa sesukses mereka ? Tidak ada yang namanya kaya secara instan kecuali menang lotre dan mendapat warisan. Menjadi penjahat saja harus usaha, bisnis narkoba pun begitu. Apakah anto tidak berfikir “Seberapa keras usaha baik halal maupun haram yang harus ditempuh untuk mencapai kesuksesan seperti itu ?”
Mengapa manusia tidak berfikir sampai kesana ? Iming-iming uang, kekayaan, dan kemewahan yang membuat akal sehat manusia tertutup. Itu juga yang membuat para pemuja kekayaan seperti kiyosaki mendapat pengikut fanatik. Itulah manusia.. Andai tuhan menyadap seluruh pesawat Televisi didunia dengan gambaran surga dan neraka selama 1 hari.. saja,. Saya yakin jumlah orang baik di dunia akan bertambah 68 % 